Kamis, 14 Maret 2013

Roadshow Pesantren Bersama Kak Lulu @Ponpes Awaliyah Al Asiyah Cibinong Bogor

20 Februarii 2013 :) Alhamdulillah Roadshow Pesantren Bogor - Ponpes Awaliyah Al Asiyah Cibinong Bogor ^_^ Yuk, bersama-sama menjadi pemuda pemudi generasi Islam gemilang.
MASA MUDA SEBELUM MASA TUA
MEMANFAATKAN MASA MUDA
Berdasarkan fase kehidupan manusia yang digambarkan al-Qur’an, masa muda merupakan masa sempurnanya pertumbuhan fisik dan kekuatan seorang manusia. Al-Qur’an mengisyaratkannya dengan kata قُوَّة dalam bentuk nakirah yang menunjukkan komprehensivitas dalam segala aspek kekuatan; fisik, biologis, pikiran, dan aspek non fisik lainnya. Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa fase kekuatan terjadi saat orang menginjak usia remaja dan muda, yang sebelumnya didahului keadaan lemah. Setelah menjadi kuat ia kembali masuk fase lemah. Inilah gambaran utuh tentang fase kehidupan manusia yang disebutkan al-Qur’an berdasarkan usia yang dijalani oleh manusia:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS ar-Rum: 54)
Fakta fithrah di atas diperkuat pernyataan al-Qur’an dalam surah at-Tin ayat 4-5. Tentang ayat-ayat ini, beberapa murid Ibnu Abbas RA, seperti Ikrimah, Ibrahim dan Qatadah menjelaskan bahwa, sebaik-baik bentuk (ahsan taqwim) yang diciptakan Allah SWT terjadi pada usia muda, yaitu pada puncak masa kuat dan semangat untuk beramal. Setelah itu manusia dikembalikan kepada keadaan yang paling rendah (asfal safilin), yaitu usia tua renta; masa yang lemah dan berat untuk beraktivitas. Bahkan menurut adh-Dhahhak, seperti yang dikutip Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masir, keadaan usia tua lebih lemah dan berat daripada usia kanak-kanak, apalagi jika dibandingkan dengan usia muda.
Karenanya, menurut Ibnu Qutaibah, orang-orang beriman yang dikecualikan dari kerugian adalah mereka yang sukses memanfaatkan masa mudanya untuk banyak beramal. Sehingga, ketika memasuki usia lanjut pahala kebaikan mereka tidak berkurang, meski mereka tidak lagi mampu melakukan ketaatan seperti ketika usia muda dahulu. Itu karena Allah SWT masih tetap mencatatnya sebagaimana dahulu. Dalam ungkapan Rasulullah SAW: “Seperti ia dahulu tidak bepergian dan dalam keadaan sehat (muda).” (HR Bukhari)
Pesan Nabi SAW untuk para pemuda
Masa muda dalam pandangan Rasulullah SAW me­rupa­kan masa ‘bercocok tanam’. Orang yang sukses memanfaatkan masa mudanya untuk beribadah kepada Allah SWT menduduki tempat kedua setelah pemimpin yang adil dalam memperoleh naungan Allah SWT pada hari kiamat kelak.
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ
“Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah Ta’ala pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya: Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i). Perhatian Rasulullah SAW terhadap usia muda juga cukup besar dengan banyaknya khithab yang ditujukan khusus kepada para pemuda, di antaranya:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Wahai para pemuda, jika kalian sudah memiliki kemampuan, menikahlah, karena dengannya kalian lebih mampu menahan pandangan dan menjaga nafsu (kemaluan). Dan siapa yang masih belum ber­ke­mampuan, hendaklah ia berpuasa karena hal itu dapat membentenginya.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i). 
Rasulullah saw juga memerintahkan agar berhati-hati dalam bergaul dan membina para pemuda. Sebagaimana diriwayatkan Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak, “Berhati-hatilah dengan kekeliruan para pemuda.” Pesan Rasulullah kepada salah seorang sahabatnya ternyata diawali dengan pesan memanfaatkan masa muda sebelum empat pesan berikutnya: “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara; waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu….” (HR al-Hakim). Pesan Rasulullah ini senada dengan perintahnya, dalam riwayat Tirmidzi, agar menyegerakan beramal se­belum datang tujuh penghalang, yang salah satunya adalah usia lanjut yang melemahkan (haram mufannid). Bahkan pertanggungjawaban terbesar yang disebutkan secara spesifik di hari kiamat kelak adalah tentang pemanfaatan masa muda, “Takkan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskan; tentang masa mudanya, untuk apa dipergunakan; tentang hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan; dan tentang ilmunya, apa yang sudah diperbuat dengannya.”(HR Tirmidzi). Imam al-Mubarakfuri ketika menjelaskan hadis ini menyatakan bahwa penyebutan masa muda secara khusus, karena usia muda berpotensi besar untuk didominasi nafsu syahwat. Karena  secara biologis, pendorong untuk mengikuti hawa nafsu pada dirinya sangat besar. Dalam kondisi seperti ini, berkomitmen dalam ketaatan kepada Allah lebih sulit dan membutuhkan pengorbanan dan perjuangan yang besar. Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda, “Se­sungguh­nya Allah swt benar-benar kagum terhadap se­orang pemuda yang tidak memliki shabwah.  (HR Tirmidzi). Shabwah artinya pemuda yang tidak mem­perturutkan hawa nafsunya, dengan membiasakan diri melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.
Demikian juga alasan Abu Bakar RA memilih pemuda Zaid bin Tsabit untuk memimpin proses penghimpunan al-Qur’an, karena Zaid seorang pemuda cerdas yang terpercaya:
إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ وَلَا نَتَّهِمُكَ
“Sesungguhnya engkau adalah seorang pemuda, cerdas, dan kami tidak meragukan keshalehanmu.”
Masih banyak pembahasan tentang pemuda dan usia muda yang selalu menarik dan mengundang perhatian. Sukses memanfaatkan masa muda berarti sukses memanfaatkan seluruh usia yang diamanahkan Allah SWT. Sebaliknya, gagal dan lalai memanfaatkan masa muda akan berakibat pada penyesalan yang tiada berguna di kemudian hari.  Karena usia muda senantiasa terkait dengan semangat, ghairah, dan dinamika. Kelompok usia ini telah memberikan kontribusi besar untuk kemajuan umat seperti yang diabadikan dengan tinta emas dalam sejarah Islam dan umatnya. Ibnu Abbas RA menyatakan:  “Tak ada seorang pun nabi yang diutus Allah, melainkan ia dipilih dari kalangan pemuda (yakni usia antara 30-40 tahun).” Begitu pula ulama, tidak ada di antara mereka yang diberi ilmu, melainkan  saat ia masih muda. Masih ditunggu kiprah pemuda dalam berbagai bentuknya untuk kemajuan umat dan agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar anda untuk sekedar saran, kritik dll.

Anda suka dengan artikel Lulu masukan Email anda untuk berlangganan (Gratis):

Delivered by FeedBurner


http://www.o-om.com Did You Know... »» (?)