Sabtu, 05 Januari 2013

Serunya, Khitanan Masal dan Parade Marawis Gambus di Masjid At Tin TMII Jakarta

1 Hari 2 Sisi
Dongeng Ceria Untuk Anak-anak Pemberani 
 Berbagi Semangat Seni Islami Pemuda Pemudi Harapan

Tema diatas terdapat kalimat yang membutuhkan penjelasan, '1 Hari 2 Sisi' maksudnya adalah pada hari 30 Desember 2012  mendekati penghujung tahun 2012, Masjid At Tin mengadakan khitanan masal gratis (di dalam aula masjid At Tin / in door) dan parade lomba seni Islami, marawis dan gambus (luar halaman masjid At Tin / out door). 2 sisi yang berbeda dalam satu waktu yang sama. Namun kebahagiaan yang sama karena kedua sisi tersebut memiliki nilai yang berbeda, pertama keberanian mengikuti syiar Agama Islam dalam khitan lalu kedua keberanian mensyiarkan agama Islam dengan kesenian musik. Bedanya hanya usia, namun semangat juang keberaniannya sama-sama hebat. Dalam kesempatan tersebutKak Lulu mengisi acara untuk dua sisi yang berbeda. Agar mereka tambah berani, semangat dan tentunya pantang menyerah. 

SISI 1 
Masa yang paling menyenangkan adalah masa kanak-kanak, masa bermain dan explore diri karenanya masa ini disebut masa-masa golden age, usia keemasan. Tentunya Islampun amat sangat memperhatikan masa kanak-kanak ini karenanya pengajaran dan pendidikan tentang aqidah Islam sejak dini dikenalkan. Sehingga anak-anakpun dengan senang mengikuti Syariat agama Islam, Mentaati Allah dan Rasulullah SAW. Lalu apa ya, keterikatan aqidah dengan khitan? Yuk, kita kaji bersama-sama.. ^_^

Khitan merupakan syari’at dan syi’ar agama Islam yang telah pasti. Banyak sekali dalil yang menjelaskan tentang syari’at khitan ini, diantaranya adalah :
عَنْ أَبِي هُرَيْرةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ سَمِعْتُ النَبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ يَقُولُ اْلفِطْرَةُ خَمْسٌ اْلخِتَانُ وَاْلاسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِب وَتَقْلِيْمُ اْلأَظْفَار وَنَتْفُ الْآبَاط
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu ia berkata : Aku mendengar Rasulullahshallallaahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Fithrah itu ada lima macam : Khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, menggunting kuku, dan mencabut bulu ketiak” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6297 – Fathul-Baari), Muslim (3/257 – An-Nawawi), Malik dalam Al-Muwaththa’ (1927), Abu Dawud (4198), At-Tirmidzi (2756), An-Nasa’i (1/14-15), Ibnu Majah (292), Ahmad dalam Al-Musnad (2/229), dan Baihaqi (8/23)].
عَنْ عُثَيْم بْنِ كُلَيْب عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِهِ أَنَهُ جَاءَ إِلَى النَبِي صلى اللهُ عليْهِ وسلم فَقَال قَدْ أَسلَمْتُ فَقَالَ لَهُ النَبيُ صَلَى اللهُ عَلَيه وَسَلَمَ أَلْقِ عَنْكَ شِعْرَ الكُفْرِ وَاخْتَتِن
Dari ’Utsaim bin Kulaib dari ayahnya dari kakeknya ia berkata : Bahwasannya kakeknya datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan berkata,”Aku telah masuk Islam”. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :”Buanglah darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah” [Hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud (356), Ahmad (3/415), dan Baihaqi (1/172). Berkata Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwaa’ : “Hadits ini hasan karena memiliki dua syahid, salah satunya dari Qatadah Abu Hisyam dan yang lainnya dari Watsilah bin Al-Asqa’. Aku telah berbicara tentang kedua hadits ini dan aku terangkan pendalilan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah dengannya dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 1383].

Mengenai hukum khitan, maka yang paling raajih (kuat) adalah wajib. Ini yang ditunjukkan oleh dalil-dalil dan mayoritas pendapat ulama’. Perintah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah tsabit (tetap) terhadap seorang laki-laki yang telah ber-Islam untuk berkhitan. Beliau shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda kepadanya :”Buanglah darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah”. Ini merupakan dalil yang paling kuat atas wajibnya khitan.

Berkata Asy-Syaikh Al-Albani dalam Tamaamul-Minnah hal. 69 :
وأما حكم الختان فالراجح عندنا وجوبه وهو مذهب الجمهور كمالك والشافعي وأحمد واختاره ابن القيم وساق في التدليل على ذلك خمسة عشر وجها وهي وإن كانت مفرداتها لا تنهض على ذلك فلا شك أن مجموعها ينهض به ولا يتسع المجال لسوقها جميعا ههنا فأكتفي منها بوجهين:

الأول: قوله تعالى: {ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً} والختان من ملته كما في حديث أبي هريرة المذكور في الكتاب وهذا الوجه أحسن الحجج كما قال البيهقى ونقله الحافظ 10 / 281.

الثاني: أن الختان من أظهر الشعائر التي يفرق بها بين المسلم والنصراني حتى إن المسلمين لا يكادون يعدون الأقلف منهم.

“Adapun hukum khitan, maka yang raajih menurut kami adalah wajib, dan ini merupakan pendapat jumhur seperti Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan pendapat yang dipilih oleh Ibnul-Qayyim. Beliau membawakan 15 (limabelas) sisi pendalilan yang menunjukkan wajibnya khitan. Walaupun satu persatu dari sisi-sisi tersebut tidak dapat mengangkat perkara khitan kepada hukum wajib, namun tidak diragukan bahwa pengumpulan sisi-sisi tersebut dapat mengangkatnya (kepada hukum wajib).Dua dari limabelas sisi yang dapat disebutkan antara lain :
1. Firman Allah ta’ala :
ثُمّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ اتّبِعْ مِلّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً
Kemudian Kami wahyukan kepadamu : “Ikutilah millahnya Ibrahim yang hanif”
(QS. An-Nahl : 123).
Khitan termasuk ajaran millah Ibrahim sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah yang telah lalu. Sisi ini merupakan hujjah yang terbaik sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Baihaqi yang dinukil oleh Al-Hafidh (10/281).
2. Khitan termasuk syi’ar Islam yang jelas, yang dibedakan dengannya seorang Muslim dengan seorang Nashrani. Hampir-hampir tidak dijumpai dari kaum muslimin yang tidak berkhitan.
[selesai ucapan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah].
Selain dua sisi yang disebutkan di atas, Al-Hafidh Ibnu Hajar menambahkan sisi lain sebagaimana yang disebutkan dalam Fathul-Baari (10/339) dari Al-Imam Abu Bakar Ibnul-‘Arabi ketika berbicara tentang hadits : ”Fithrah itu ada lima macam : khitan, mencukur rambut kemaluan,…dst”; ia berkata :
عندي أن الخصال الخمس المذكورة في هذا الحديث كلها واجبة فإن المرء لو تركها لم تبق صورته على صورة الآدميين فكيف من جملة المسلمين
“Menurutku kelima perkara yang disebutkan dalam hadits ini semuanya wajib. Karena seseorang jika ia meninggalkan lima perkara tersebut tidak nampak gambaran bentuk anak Adam (manusia), lalu bagaimana ia digolongkan dari kaum muslimin?” [selesai ucapan Ibnul-‘Araby].
Adapun tentang waktu pelaksanaan khitan, maka para ulama telah berbeda pendapat dalam aneka macam perkataan. Ada yang berkata dimulai usia 7 tahun, 6 tahun, 10 tahun, 7 hari setelah kelahiran, maksimal usia baligh, sebelum baligh, pada waktu baligh, dan yang lainnya.
Yang raajih adalah bahwasannya tidak ada waktu tertentu dilakukannya khitan, namun ia menjadi wajib ketika usia telah mencapai usia baaligh, sebab saat itulah waktu takliif. Memang ada di kalangan shahabat yang mengakhirkan khitan ketika telah memasuki usia baligh, seperti ‘Abdullah bin ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma.
عن سعيد بن جبير قال: سئل ابن عباس: مثل من أنت حين قبض النبي صلى الله عليه وسلم؟ قال: أنا يومئذ مختون، قال: وكانوا لا يختنون الرجل حتى يدرك
Dari Sa’iid bin Jubair, ia berkata : Ibnu ‘Abbas pernah ditanya : “Seperti apa dirimu ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat ?”. Ia menjawab : “Aku pada waktu itu telah dikhitan. Dan mereka (para shahabat) tidaklah mengkhitan seseorang kecuali setelah ia baligh” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6229].
Namun sebagaimana amalan ibadah yang lain lebih utama jika dilakukan dengan segera, maka khitan pun disukai untuk disegerakan pelaksanaannya. Allah ta’alaberfirman :
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu” [QS. Aali ‘Imraan : 133].
Abul-Faraj Al-Sarkhasiy berkata : “Faedah berkhitan pada usia kanak-kanak adalah karena kulit akan bertambah alot dan semakin keras setelah usia tamyiz. Oleh karena itu, para imam membolehkan berkhitan sebelum usia tersebut”.
Dan alhamdulillah, Allah telah memberikan pengetahuan kepada kaum muslimin ilmu kedokteran sehingga khitan di jaman sekarang tidaklah terasa sakit kecuali sedikit sekali. Ibu tidak seharusnya membiarkan anak ibu tidak berkhitan sampai batas usiabaligh (dewasa). Orang yang tidak berkhitan, maka najis akan terkumpul pada kemaluannya sehingga mengurangi kesempurnaan istinja’/wudlu sekaligus ibadah shalatnya.
Al-Mawardiy berkata :
له وقتان وقت وجوب ووقت استحباب، فوقت الوجوب البلوغ ووقت الاستحباب قبله، ...... ويستحب أن لا يؤخر عن وقت الاستحباب إلا لعذر،
“Khitan itu mempunyai dua waktu : Waktu wajib dan waktu mustahab (sunnah). Waktu wajib adalah ketika usia baligh, sedangkan waktu mustahab adalah sebelumbaligh. Dan disukai untuk tidak mengakhirkannya dari waktu mustahab kecuali jika ada udzur” [Fathul-Baariy, 10/342].
Sahabat-sahabatku...
Karena itu Kak Lulu mengacungkan empat jempol sekaligus untuk adik-adik yang berani untuk di khitan ^_^ Nah.. agar tidak cengeng lantaran ketakutan saat di khitan, yuk... bersama-sama kita mendengarkan dongeng. Selalu tersenyum ya, salam semangat dan ceria.

SISI 2
Kini saanya masa remaja ^_^ Remaja adalah aset sesebuah Negara, untuk melihat maju dan mundur sesebuah negara pada masa akan datang lihatlah pada remajanya hari ini. Rasul SAW menjaga kepentingan golongan remaja atau ‘pemuda’ (terjemahan yang lazim digunakan untuk perkataan “syabab”) dengan penuh perhatian, dan menyediakan golongan remaja untuk menggalas tanggungjawab dan amanah menyampaikan dakwah dalam banyak hadis dan peristiwa.
Dalam membentuk remaja mendekati Allah SWT, peringatan perlu diberi untuk mereka bertaqwa kepada Allah samada diwaktu sembunyi atau terang, Dalam riwayat Ahmad dan Abu Yakla, Rasul SAW telah bersabda:
“Sesungguhnya Allah berbangga dengan pemuda yang tiada padanya ‘subuwah’ (sifat keanak-anakan, tidak tetap pendirian dan berpaling).”


Membentuk iltizam, taat kepada Allah SWT, beribadat kepadaNya dan menyerah diri untuk mendekatkan diri kepadaNya. Hadis riwayat Shaikhan Rasul SAW bersabda:
“Tujuh golongan dilindungkan Allah dibawah lindungannya pada hari tiada perlindungan melainkan lindungan Allah: salah satunya adalah pemuda yang membesar dengan beribadat kepada Allah..”
Seruan kepada remaja untuk membentuk peribadi mereka secara rohani, jasmani, pemikiran, akhlak dan peribadi, dalam satu riwayat Rasul SAW telah bersabda:
“Rebutlah lima perkara sebelum datang lima perkara, hidup sebelum mati, sihat sebelum sakit, lapang sebelum sibuk, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin” [Hakim]
Dalam memperingati usia remaja yang ditinggalkan, setiap orang akan dipersoal oleh Allah SWT di hari penentuan, ini berdasarkan hadis Rasul SAW:
“Tidak berlalu bagi seorang hamba pada hari kiamat sehingga ia ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya bagaimana dihabiskan, tentang masa remajanya dimana diluangkan, tentang hartanya dimana didapati dan dimana dibelanjakan, tentang ilmunya bagaimana diamalkan.”
Islam tidak tertegak pada hari ini dan tersebar dakwahnya keseluruh alam melainkan dengan usaha sekumpulan remaja yang amanah, mereka mendapat tarbiyah dari madrasah Rasul SAW dan keluar sebagai sekumpulan manusia yang terlatih dan sempurna. Rasul SAW semasa diturunkan wahyu, baginda berumur 40 tahun, iaitu dipenghujung lengkapnya usia remaja. Abu Bakar muda daripada Rasul SAW sebanyak 3 tahun, Umar semasa memeluk Islam berusia 27 tahun, Usman adalah lebih muda dari Rasul dan Ali yang paling muda dari semua sahabat pada waktu itu, begitu juga Abdullah bin Masud, Said bin Zaid dan beratus lagi sahabat yang menemui Islam semasa berusia remaja.
Keterikatan antara seni musik dengan remaja amat sangat erat, misalnya saja acara musik di televisi, yang lebih banyak hadir adalah anak-anak muda, juga virus boys band dan dan girls band yang menjadi virus yang menyebar dimana-mana, korban terbanyak adalah remaja. Lalu bagaimana Islam menyikapi hal ini, bermusik yang Islami seperti apa ya?


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: “Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan musik.” (HR. Bukhari dan Abu Daud)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan di antara manusia (ada) yang mempergunakan lahwul hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan.” (Qs. Luqman: 6)

Jika memahami hadist dan ayat al-qur’an yang membahas tentang musik sudah dapat dipastikan bahwa ada kekhawatiran dari orang-orang yang mendengarkan musik terlena dengan perintah Allah. Musik yang memberikan banyak mudharat inilah yang tentunya diharamkan oleh Islam. Bahkan musik yang sampai membuat manusia menjadi musyrik kepada Allah SWT.
Saat ini musik yang berkembang di negeri ini kebanyakan musik yang memberikan mudharat dari pada manfaat. Bahkan baru-baru ini ada beberapa artis musik yang menjadi sorotan baik dari dalam negeri maupun luar negeri.  Musik yang dibawa bukan saja syairnya yang tidak mendidik, ditambah dengan goyangan erotis  para artisnya, seperti artis trio macam dan Lady Gaga. Kemudian ditambah lagi dengan gaya berpakaiannya yang seronok untuk menarik simpati para penonton. Apakah musik seperti ini yang mendidik masyarakat. Tentunya tidak. Dengan alasan inilah kenapa sebagian para ulama mengharamkan musik.
Terkadang sangat ironi sekali, ketika mereka yang mendukung para artis tersebut dengan dalih menjunjung tinggi nilai seni budaya. Nilai estetika. Namun,lupa nilai seni budaya dan estetika seperti apakah yang diharapkan dalam Islam? Lalu bagaimana Islam memandang musik Islami, seperti Nasyid, dan Rebana? Mari kita simak hadist berikut ini;
Berdasarkan hadits A’isyah: “Suatu ketika Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masuk ke bilik ‘Aisyah, sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata: “… dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi.”), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah malah bersabda: “Biarkanlah mereka karena sesungguhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita adalah pada hari ini.” (HR. Bukhari)
Dari hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dapat dipahami bahwa musik seperti ini diperbolehkan. Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi membolehkan musik ini dikarenakan mengandung puji-pujian kepada Allah SWT.
Bahkan dalam Al-Qur’anpun belum ada ketentuan tentang diharamkannya tentang musik secara terang-terangan, dan juga tidak menghalalkannya, maka disinilah letaknya hukum mubah (diperbolehkan). Walaupun diperbolehkan, musik tersebut haruslah mengandung unsur manfaat untuk kehidupan manusia. Bukan musik yang melenakan manusia dari mengingat Allah SWT. Baik syair-syair yang dihasilkannya, maupun sarana yang dipergunakan. Unsur musik yang diperbolehkan disini adalah musik yang bebas dari kemaksiatan atau kemungkaran. Nah, contohnya adalah gambus dan marawis dan parade gambus dan marawis ini menambah kecintaan kaum muda untuk cinta pada seni Islami ^_^

Ayo.. adik-adik yang sudah di khitan atau masih menunggu giliran,
Yuk.. kita dengarkan dongeng bersama-sama 
Hadir juga adik-adik yang mahir di memainkan alat musik, Nation beat
Dalam acara MNCtv 'Sketsa Sang Nabi' Nation Beat juga ikut dalam acara tersebut.

Senangnya saat melihat pemuda-pemudi, remaja putra-putri yang tertarik dengan seni
Gambus dan marawis, ditengah hilir mudiknya demam Girls Band dan Boys Band
Semangat Pemuda-peudi Islam membangun bangsa, semangat itu pula yang harus kita bangun
Bangga dengan seni budaya bangsa, Cinta dengan seni Islami 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar anda untuk sekedar saran, kritik dll.

Anda suka dengan artikel Lulu masukan Email anda untuk berlangganan (Gratis):

Delivered by FeedBurner


http://www.o-om.com Did You Know... »» (?)