Sabtu, 05 Januari 2013

Remaja yang Keren, Gaul, Ngetrend, Menjadi Generasi Rabbani

Anak Muda yang Keren Itu.....?

Ketika bicara tentang remaja yang keren, pastinya yang terbayang adalah hal-hal yang berbau gaul,funky,modis dan lain-lain. Kebanyakan remaja beranggapan bahwa remaja yang keren itu di lihat dari cara gaul nya dan dandanan yang di kenakan. padahal yang seperti ini hanyalah kesenangan materi saja.
Sahabat-sahabatku, terutama kaum muda yang keren-keren...
Remaja keren itu tidak di lihat dari penampilan saja,akan tetapi remaja keren adalah remaja yang bisa nunjukin pada dunia bahwa ia mempunyai segudang prestasi dan akhlak yang baik. Apalagi dengan remaja islam,jangan sampai identik dengan budaya luar.
Remaja islam mempunyai banyak tantangan dalam menghadapi globalisasi,bila salah merespon kita akan terbawa arus gaya hidup yang tidak islami yang akan merugikan diri sendiri. Yang menjadi pedoman hidupnya adalah Al Qur'an dan Sunnah jika keduanya dilupakan maka hidup pun akan terombang ambing. Islam mempunyai aturan dalam gaya hidup agar tidak salah langkah. islam milik kita bersama milik kita para generasi muda. sudah seharusnya  remja islam keren dengan berpikir,berperilaku,dan bergaya islami. Gimana, setuju kan? Yuk jadi remaja yang keren abis ^_^

Sahabat-sahabat remaja yang sholeh dan sholehah...
Setiap kita pasti ingin menjadi pribadi yang keren, ada juga lho, kata-kata lain yang menggambarkan obsesi keinginan remaja untuk menjadi insan yang menurutnya lebih baik.. Misalnya, lebih gaul, ngetrend, dll. 


Remaja Gaul... 

Jadi tidak hanya keren namun gaul, namun hati-hati menjadi orang yang gaul.Intinya, kita kudu hati-hati dalam bergaul. Tidak setiap gaul itu baik. Jangan lantaran takut disebut kuper atau nggak gaul, kita lalu kebablasan. Sebab, ada saja yang terjerumus ke hal-hal negatif bahkan menyesatkan gara-gara salah gaul. Entah karena faktor ikut-ikutan (imitasi), kena pengaruh (sugesti), keliru mengidentifikasi, atau karena faktor lainnya.



Oleh karena itu, ungkap L.Kohlberg, alasan moral (moral reasoning) harus senantiasa melandasi setiap sikap dan perilaku. Lewat penalaran moral, termasuk di dalamnya pertimbangan nilai-nilai agama, seseorang akan berpikir positif untuk menentukan pilihan yang terbaik.


Berdasarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam suatu pergaulan, maka secara garis besar ada gaul yang islami, ada juga gaul yang tidak islami. Gaul yang tidak islami itu bisa berbau jahiliah, musyrik, ateis, dan 'bau-bau' lainnya - emangnya enak jadi orang 'bau', iya nggak!

Celakanya lagi, meniru-niru gaul yang tidak islami, kita pun bisa digolongkan seperti mereka. Kan hadis Nabi SAW menyatakan, "Jika seseorang meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." Bisa gawat, dong. Ayo... hati-hati ya ^_^


Remaja Ngetren...

Tren, atau ngetren telah menjadi bagian dari gaul yang sarat imitasi, terutama peniruan nilai-nilai budaya Barat. Mengikuti tren tertentu dianggap gengsi, sehingga tren jadi ukuran dalarn bergaul, berikut segala perilaku dan penampilan yang menyertainya. Mulai dari gaya berbusana (fesyen), gaya bersenang-senang (fun), hingga perilaku makah-minurn (food) dan tontonan (film). Untuk mudahnya, sebut saja 4 F'.

Repotnya, karena dicekoki tren, seringkali membuat orang lepas dari etika, moral, bahkan lepas dari nilai-nilai agama. Tren dalam fesyen, misalnya, kalau nggak ketat, ya transparan atau buka-bukaan mengekspose aurat (terutama aurat perempuan), padahal memperlihatkan aurat dalam agama kita dianggap sudah ketinggalan zaman karena yang begitu itu adalah 'gaya hidup primitif, kalau tidak hendak dikatakan, maaf, tradisi bina plus...tang. Jelas kan, mana yang sejatinya kuno mana yang modern.

"....Sesungguhnya perempuan itu, apabila sudah baligh, tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan 'ini' dan 'ini'," kata Nabi kita sembari menunjuk muka dan teiapak tangannya.. (HR. Abu Daud)

Ada pula tren cowok meniru busana cewek, cewek meniru busana laki-laki. Katanya, unisex. Inipun jelas-jelas kebli-nger. Kata Nabi, "Laknat Allah kepada iaki-laki yang meniru perempuan, dan perempuan yang meniru laki-laki." (HR. Bukhari)

Kita beralih ke soal fun. Paling banyak ditandai pacaran, pergi ke (atau mangkal di) tempat-tempat hiburan. Pacaran sekarang cenderung mengarah pada zina (ngeseks), sedangkan di tempat-tempat hiburan seringkali terjadi ngedrink, nge-drug, dan ngegambling. Jadi sudah sangat jelas penyimpangannya dari moral atau nilai-nilai agama.

Allah memperingatkan, "Kalian telah terlena oleh melimpahnya kesenangan, sehingga tibalah saatnya kalian di tepi jurang." (QS At Takatsur : 1-2)

"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir dan mereka memandang hina orang-orang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat..." (QS Al Baqarah : 212)


Remaja yang Pacaran...

Hari gini ga punya pacar? Duh... Plisss deeeh... Seolah pacaran adalah gaya yang perlu dilakuni oleh setiap kaum muda sehingga ketika tidak memiliki pacar, maka akan di cap 'ga laku' 'ga gaul' ga banget' Aduh... Ada-ada aja, ya !

Salah satu gejala negatifnya yang menjadi kebiasaan dan terlihat biasa adalah timbulnya berbagai berbagai perilaku yang menjadikan pacar sebagai suatu kebanggaan pergaulan. Ada semacam ajang pamer pacar. Entah di sekolah, di kampus, di mall, di tempat hiburan, di pesta atau di tempat lainnya.

"Gimana Bob! Kece nggak cewek gua," bisik Coy pada temannya. "Boleh juga. Trus, gimana dengan cewek gua," balik si Bob, juga berbisik.

"Kalau wajah, jelas kalah sama cewek gua. Tapi soal bodi, gua akuin deh, cewek lu lebih bahenol."

Walah! Emang Pacar itu barang !?

Karena pacaran dianggap 'gaul', dan untuk mendapatkan pengakuan sebagai 'anak gaul', banyak remaja yang belum punya pacar cepat-cepat nyari pacar. Lingkungan gaulnya pun ngumpul bareng bersama pacar.

Sekolah atau kampus menjadi ajang pacaran. Sepulang sekolah atau kuliah, kembali pacaran. Bahkan pada saat-saat lainnya, ada agenda wakuncar, apel mingguan, dan seterusnya. Begitu banyak waktu tersita untuk pacaran, menyebabkan pelajaran, kuliah dan hal-hal penting lainnya menjadi terabaikan. Padahal dana untuk pacaran diperoleh dari hasil 'unik' (usaha nipu kolot = orang tua). Sebab umumnya mereka belum bisa cari duit sendiri.



Remaja Premarital sex...

Hati-hati dengan yang satu ini, tidak kalah gawat dan bahkan Yang lebih gawat dan bikin repot keluarga adalah sinyalemen Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa, bahwa pacaran mengarah atau mendorong terjadinya hubungan seks di luar nikah (premarital sex), membuat kepribadian remaja menjadi labil, pelajaran terganggu karena konsentrasi sering terhambat oleh lamunan atau khayalan sex (Singgih, 1993:94) Apalagi, bila premarital sex itu menyebabkan kehamilan. Nah, lho !



Seks di luar nikah merupakan kegagalan seorang remaja mengendalikan diri sehingga menjadi budak hawa nafsu birahi, budak setan. Meskipun dalihnya, 'atas nama cinta'. Gombal!


Kehamilan di kalangan remaja putri, ternyata bukan cerita baru. Menurut data dr Biran Afandi di Jakarta, selama 1987 saja sudah terdapat 284 remaja putri yang hamil di luar nikah. (Assalam, Oktober 2002). Tuh, kan?

Belakangan, remaja sekarang katanya makin 'pinter'. Tapi, pinter yang keblinger. Mereka sudah mengenal aiat-alat kontrasepsi, seperti kondom, pil dan suntik anti kehamilan, termasuk hubungan seks dengan cara rythm method (pantang berkala). "Biar nggak hamil," katanya. Begitulah kalau sudah berprinsip ARDATH: Aku Rela Ditiduri Asal Tidak Hamil. Trus, biar asal tidak dosa-nya, gimana ?

Simak dong firman Allah, "Dan janganlah kamu dekati zina (mengarah ke berbuat zina, seperti berpandang-pandangan, berdua-duaan, bergandengan, dan seterusnya), sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk." (QS Al Isra : 32)



Remaja berfikir,

Antara enak dan halal...


Setelah fesyen dan fun, maka F yang ketiga adalah food (makanan-minuman). Ternyata masih ada saja remaja kita rnerasa bahwa makan di KFC, Pizza Hut, Wendys, McDonald, dan fast food ala Barat lainnya, merupakan tren dan bergengsi, tanpa mempedulikan kehalalannya. Sedangkan makan di warteg dianggapnya, yaa...kampungan lah.


Betapa noraknya kita ! Di Amrik, tempat-tempat makan seperti itu masuk kategori rendahan. Apalagi menurut ahli gizi di Amerika sendiri, ada fast food atau makanan ala Amrik yang dianggap garbage food, alias 'makanan sampah’. Sebab, kandungan gizinya sangat tidak sesuai dengan standar gizi yang sehat untuk tubuh.


Boleh-boleh saja kita menikmati jenis makanan-minuman yang 'bermerek dunia'. Namun sebagai muslim, kita tetap harus memperhatikan halal-haramnya. Lebih baik kita makan ala kadarnya tapi lengkap unsur gizi, protein dan seratnya serta jelas kehalalannya, tidak subhat. Betul kan?


Ingat, Allah telah mengingatkan kita, "...Makanlah sebagian dari makanan yang ada di bumi yang halal dan baik - halalan thayyiban - dan jangan ikuti perilaku setan, karena setan itu musuh yang nyata bagimu." (QS Al Baqarah ; 168)


Nah, remaja muslim dan muslimah.... kalian tinggal memilih mau jadi "generasi rabbani' sesuai tuntunan Ilahi, atau mau jadi 'generasi keledai' seperti disebut dalam Al Quran surah Al Jumu'ah ayat 5, "...ibarat keledai.... Itulah seburuk-buruk perumpamaan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." Naudzubillah min Dzalik... 

Yuk, bersama-sama berbenah diri, mejadi generasi yang sukses dunia dan sukses akhirat. Memakmurkan masjid, membangun peradaban dengan berbagai bidang dan selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan keluargaSukses  ^_^ Keep spirit dakwah and ukhuwah ya.. 

Mendukung penuh genarasi muda kembali ke Masjid. Memakmurkan Masjid   menuju generasi Rabbani

Dakwah bagi kaum muda adalah menyampaikan kebaikan dalam bidangnya
Penyampaian dakah tidak kaku dan monoton, pesan dakwah adalah menyenangkan dan menyentuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar anda untuk sekedar saran, kritik dll.

Anda suka dengan artikel Lulu masukan Email anda untuk berlangganan (Gratis):

Delivered by FeedBurner


http://www.o-om.com Did You Know... »» (?)