Selasa, 20 November 2012

Roadshow Dongeng Ka' Lulu - 19 Nov 2012 @Ananda Islamic School Kalideres Jakarta

Mari berkeliling mengunjungi sekolah-sekolah PAUD, RA, TK, TKIT, SD, SDIT, MI bersama Roadshow Dongeng Ka' Lulu, menyelami Indahnya kisah-kisah yang ada di dalam al-Qur'an, Memangun kecerdasan spiritual anak melalui kisah-kisah yang ada di dalam al-Qur'an. Salam semangat dan Ceria ^_^

Roadshow Dongeng kak Lulu hari ini, Senin, 19 Nov 2012 berkunjung ke sekolah 'Ananda Islamic School' Kalideres Jakarta. Kak' Lulu berangkat dari rumah pukul 07.00 wib perjalanan selama 3 jam dari Depok menuju Kalideres Jakarta dihiasi dengan hiruk pikuknya kendaraan dan juga kemacetan. Rasanya sudah tidak sabar ingin segara sampai dan bertemu dengan sahabat-sahabat kecil yang hebat, bersama bermain dan bernyanyi bersama, pastinya seru ^_^

Alhamdulillah... sudah sampai di tempat tujuan,  Ananda Islamic School. Bunda Ary Matondang selaku kepala sekolah Ananda Islamic School dan para dewan guru dan murid-murid TK. Ananda Islamic School sudah berada di ruang aula sekolah lantai 2. Di ruang yang luas ini terdapat panggung yang luas dan indah dengan hiasan lucu dan background panggung yang bertuliskan 'Roasdshow Dongeng Kak Lulu'. Persiapan yang luar biasa untuk menjadikan acara 'Roadshow Dongeng Ka' Lulu' ini menjadi special event yang selalu dikenang.

Sebelum mendongeng para dewan Guru memberikan beberapa pertanyaan kepada sahabat-sahabat kecil yang hebat-hebat, pertanyaan mengenai silsilah Rosululloh, nama Bapak dan Ibu nabi Muhammad SAW, ternyata sahabat-sahabat kecil Ananda Islamic School memang heat-hebat, mereka tahu jawabannya, yaittu Ayah nabi Muhammad yang bernama Abdullah dan ibunya , Siti Aminah. Usai ibu Guru memerikan pertanyaan yang sudah terjawab. Maka tiba saatnya kini acara Roadshow Dongeng Ka' Lulu ^_^

Usai bernyanyi bersama, Ka' Lulu memulai kisah tentang QS. Az Zalzalah yaitu peristiwa 'Hari Kiamat'. 



'Apabila bumi di goncangkan dengan goncangan yang dahsyat'
Roadshow Dongeng @TK Ananda Islamic School - Kalideres Jakarta
Bersama Ketua Yayasan Ananda Islamic School dan Kepala Sekolah, Bunda Ary Matondang.
Terimakasih kepada TK. Ananda Islamic School yang telah memberikan sumbangan untuk Yayasan Yatim
Fahmil Qur'an  Cibeteung Udik - Ciseeng Bogor


Usai mendongeng, berfoto bersama murid-murid TK. Ananda Islamic School Jakarta
Berpose bersama murid-murid dan pada guru Ananda Islamic School Jakarta



KISAH 'BERIMAN KEPADA HARI KIAMAT

Peristiwa mengerikan yang akan terjadi pertama kali pada hari kiamat adalah ditiupnya sangkakala (ash-shur) oleh malaikat Israfil  dengan perintah Allah.
Dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata:

قَالَ أَعْرَابِيٌّ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الصُّورُ؟ قَالَ: قَرْنٌ يُنْفَخُ فِيهِ
Seorang badui bertanya: “Wahai Rasulullah, apa itu ash-shur?” Beliau n menjawab: “Tanduk yang akan ditiup.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud. Hadits ini disebutkan dalam Al-Jami’ Ash-Shahih 6/113-114, karya Asy-Syaikh Muqbil)
Juga sebagaimana dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah n bersabda:
كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ
“Bagaimana aku akan senang hidup di dunia, sementara pemegang sangkakala telah memasukkannya ke mulutnya. Dia memasang pendengaran untuk diijinkan (meniupnya). Kapanpun dia diperintah meniupnya, dia akan meniupnya.” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dengansyawahid (pendukung)nya dalam Ash-Shahihah no. 1079)
Banyak sekali dalil dari Al-Qur’an yang menunjukkan akan ditiupnya sangkakala pada awal terjadinya hari kiamat. Di antaranya, Allah l berfirman:

Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al-An’am: 73)
“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (Yasin: 51)
Sedangkan dalam As-Sunnah, Rasulullah n menyebutkan dalam sebuah hadits yang panjang:
ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا ثُمَّ لَا يَبْقَى أَحَدٌ إِلَّا صَعِقَ ثُمَّ يُنْزِلُ اللهُ مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوْ الظِّلُّ -شَكَّ الراوي- فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ
“Kemudian ditiuplah sangkakala, maka tidak ada seorangpun yang mendengarnya kecuali akan mengarahkan pendengarannya dan menjulurkan lehernya (untuk memerhatikannya). Lalu, tidak tersisa seorangpun kecuali dia mati. Kemudian Allah l menurunkan hujan seperti gerimis atau naungan –perawi ragu–, maka tumbuhlah jasad-jasad manusia karenanya. Lalu ditiuplah sangkakala untuk kali berikutnya, tiba-tiba mereka bangkit dari kuburnya dalam keadaan menanti (apa yang akan terjadi).” (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr c)

Malaikat Israfil, sang peniup sangkakala
Di antara dalil yang menunjukkan secara jelas bahwa malaikat yang diberi tugas untuk meniup sangkakala adalah Israfil, adalah sebagai berikut:
  1. Hadits Abu Hurairah 
Ini adalah hadits yang panjang dan masyhur tentang ditiupnya sangkakala. Disebutkan di dalamnya bahwa Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ خَلَقَ الصُّورَ فَأَعْطَاهُ إِسْرَافِيلَ فَهُوَ وَاضِعُهُ عَلَى فِيهِ
“Sesungguhnya Allah l semenjak menciptakan langit dan bumi, Dia ciptakan pula sangkakala lalu Dia berikan kepada Israfil. Israfil meletakkannya di mulutnya.” (HR. Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Tafsir-nya, dan Ath-Thabarani dalam Al-Muthawwalat)
Namun para ulama ahlul hadits, seperti Al-Bukhari, Ahmad, Abu Hatim Ar-Razi, Amr bin Ali Al-Fallas, Ibnu Katsir dan selainnya, menghukumi hadits ini sebagai hadits yang dhaif. Di dalam sanadnya ada seorang perawi yang dhaif, namanya Ismail bin Rafi’. Juga karena dalam matannya ada beberapa hal yang mungkar, ditambah pula sanadnya mudhtharib (goncang). (lihat Fathul Bari 11/368-369, Tafsir Ibnu Katsir pada surat Al-An’am ayat 73)

Hadits Ibnu Abbas 
Dalam hadits ini disebutkan:
جِبْرِيلُ عَنْ يَمِينِهِ وَمِيكَائِيلُ عَنْ يَسَارِهِ وَهُوَ صَاحِبُ الصُّورِ –يَعْنِي إِسْرَافِيلَ
“Jibril berada di sebelah kanannya, Mikail di sebelah kirinya, sedangkan dia (yang di tengah) adalah pemegang sangkakala, yaitu Israfil.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

Ijma’ ulama
Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Ulama kami berkata: Umat-umat telah bersepakat bahwa yang akan meniup sangkakala adalah Israfil.” (At-Tadzkirah, hal. 208)
Al-Hafizh Ibnu Hajar  berkata: “Peringatan: Yang masyhur bahwa pemegang sangkakala adalah Israfil. Al-Halimi t menukilkan ijma’ dalam masalah ini.” (Fathul Bari, 11/368)

Berapa kali sangkakala ditiup?
Tentang masalah ini, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Secara ringkas, perbedaan pendapat tersebut menjadi dua, sebagaimana dikatakan Al-Imam Al-Qurthubi t dalam kitabnya At-Tadzkirah (hal. 209)

Tiga kali tiupan, Masing-masingnya adalah:

1. Nafkhatul faza’ (tiupan yang mengejutkan, menakutkan)
Ini sebagaimana firman Allah l:
“Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (An-Naml: 87)

2Nafkhatu ash-sha’qi (tiupan yang mematikan, membinasakan

3. Nafkhatul ba’tsi (tiupan yang membangkitkan)
Kedua tiupan ini terdapat dalam firman Allah :
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-Zumar: 68)
Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah hadits Abu Hurairah z yang diriwayatkan oleh Al-Imam Abul Qasim Ath-Thabarani dalam kitabnya Al-Muthawwalat. Namun hadits ini dhaif sebagaimana penjelasan yang telah lalu. Seandainya hadits ini shahih, maka ini adalah hakim yang memastikan bahwa pendapat ini yang benar. Karena dalam hadits tersebut terdapat pernyataan yang jelas dan pasti bahwa sangkakala ditiup tiga kali. Lafadz hadits tersebut sebagai berikut:
يَنْفُخُ فِيهِ ثَلَاثُ نَفَخَاتٍ، النَّفْخَةُ الْأُوْلَى نَفَخْةُ الْفَزَعِ، وَالثَّانِيَةُ نَفْخَةُ الصَّعْقِ، وَالثَّالِثَةُ نَفْخَةُ الْقِيَامِ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Israfil meniup sangkakala tiga tiupan. Tiupan yang pertama adalah yang mengejutkan. Tiupan yang kedua adalah yang mematikan. Sedangkan tiupan ketiga adalah yang membangkitan (makhluk) menghadap Rabbul ‘alamin.”
Ulama yang memilih pendapat yang menyatakan bahwa tiupan ini tiga kali, di antaranya Ibnul ‘Arabi, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir, juga Al-Lajnah Ad-Da’imah, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan dan selain mereka.

Dua kali tiupan, Kedua tiupan tersebut adalah

1. Nafkhatul faza’ sekaligus juga nafkhatu ash-sha’qi
Karena kedua tiupan ini –kata Al-Imam Al-Qurthubi  tidak ada jeda waktunya. Maksudnya, mereka terkejut dan mati karenanya, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.

2. Nafkhatul ba’tsi
Al-Imam Al-Qurthubi  berkata: “As-Sunnah yang tsabit (pasti, shahih) menunjukkan tiupan terjadi dua kali. Misalnya hadits Abu Hurairah[2]z, hadits Abdullah bin ‘Amr (HR. Muslim no. 7307) dan selainnya, menunjukkan bahwa peniupan sangkakala itu terjadi dua kali, bukan tiga kali. Ini adalah pendapat yang benar, insya Allah.”
Sedangkan firman Allah :
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-Zumar: 68)
menurut beliau, pengecualian dalam ayat ini sebagaimana pengecualian dalam nafkhatul faza’. Sedangkan firman Allah l:
“Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (An-Naml: 87) ini menunjukkan bahwa nafkhatul faza’ dan nafkhatu ash-sha’qi adalah sama (terjadi satu kali).
Jeda waktu antara dua tiupan sangkakala
Rasulullah n bersabda:
مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ
“Jarak antara dua tiupan itu adalah empatpuluh.”
Mereka bertanya: “Wahai Abu Hurairah, apakah yang dimaksud empatpuluh hari?” Beliau berkata: “Aku menolak (menjawabnya).” Mereka bertanya lagi: “Apakah empat puluh bulan?” Beliau berkata: “Aku menolak (menjawabnya).” Mereka bertanya kembali: “Apakah empatpuluh tahun?” Beliau  tetap menjawab: “Aku menolak (menjawabnya).”
Al-Imam An-Nawawi  berkata: “Makna ucapan Abu Hurairah  (dalam hadits tersebut) adalah “Aku menolak untuk menyatakan dengan pasti bahwa yang dimaksud adalah empatpuluh hari atau bulan atau tahun. Yang aku nyatakan dengan pasti adalah empatpuluh, tanpa tambahan hari, bulan atau tahun.” Terdapat riwayat yang menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah empatpuluh tahun, namun bukan dalam Shahih Muslim.” -Syarh Shahih Muslim)

Semoga dengan beriman kita kepada hari kiamat, InsyaAllah semakin meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah. Amin ya Robbal 'Alamin..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar anda untuk sekedar saran, kritik dll.

Anda suka dengan artikel Lulu masukan Email anda untuk berlangganan (Gratis):

Delivered by FeedBurner


http://www.o-om.com Did You Know... »» (?)