Sabtu, 18 Oktober 2008

Kisah Sedih Seorang Anak Kecil

Diriwayatkan oleh Annas bin Malik RA dari Rosululloh SAW bersabda :

Pada suatu pagi hari, Rosululloh pulang dari sholat Idul Fitri. Di tepi jalan anak-anak asyik bermain main dengan riang dan gembira. Di ujung sudut sana seorang anak kecil berpakaian buruk dan kumal, dia sedang menangis.





Rosululloh bertanya pada anak itu :

“Hai anak kecil, kenapa kamu menangis dan kenapa kamu tidak ikut bermain bersama dengan anak-anak itu?”

Anak itu tidak mengenal siapa yang bertanya. Lalu ia berkata :

“Ya Tuan, Ayahku telah wafat dalam peperangan bersama Rosululloh SAW dan ibuku telah menikah lagi, harta peninggalan ayahku habis diambil ibu dan ayah tiriku, bahkan aku diusir dari rumahku. Kini aku tak lagi punya makanan dan minuman, tak ada lagi pakaian dan rumah. Ya Tuan, aku iri bila memandang teman-teman sebayaku masih punya ayah dan kasih sayang ibu, mereka bersenang-senang, itulah sebabnya aku hanya bisa menangis.”

Kemudian Rosululloh mengambil tangan anak itu, sambil bertanya :

“Hai anak kecil, apakah engkau senang bila aku menjadi ayahmu dan siti aisyah menjadi ibumu?”

Anak itu menoleh, ia senang setelah tahu bahwa yang bertanya itu adalah Rosululloh SAW. Anak itupun menjawab :

“Kenapa aku harus tidak senang, menjadi anak Rosululloh SAW.”

Maka anak itupun dibawa pulang ke rumah dan segera mandi, diberi pakaian yang bagus, diberikan makanan dan minuman serta dihiasi dengan wewangian.

Setelah itu, keluarlah anak kecil itu dengan perasaan bahagia, ia tersenyum riang dan tertawa gembira. Teman-temannya yang tadi melihat dia menagis dan berpakaian buruk, bertanya :

“Tadi aku melihatmu sedang menangis, kenapa sekarang kamu gembira dan bersenang-senang?”

Anak itu menjawab : “Memang betul, tadi pagi aku lapar, sekarang aku sudah kenyang. Tadi pagi aku berpakaian kusam dan kumal, sekarang aku berpakaian bagus dan rapi. Aku sekarang berada didalam keluarga besar Rosululloh SAW. Rosululloh menjadi Ayahku sedangkan Siti Aisyah ibuku. Bukankah aku harus gembira?”

Ada diantara mereka yang menyahut : “Ah.. sedihnya aku, ayahkupun telah mati terbunuh dalam suatu peperangan bersama Rosululloh, aku ingin hidup seperti temanku itu.”

Sahabat…

Subhanalloh, begitulah indahnya perangai Nabi Muhammad SAW, ketika ia melihat anak kecil yang tengah bersedih rasa hatinya tak kuasa untuk segera menghiburnya. Betapa mulia hati Baginda Rosululloh SAW.

Sahabat…

Seandainya kita flash back pada sejarah Rosululloh dalam Siroh Nabawiyah begitu jelas dijabarkan banyaknya kisah yang menggambarkan indahnya akhlaq Rosululloh SAW, Huluquhul Qur’an. Meskipun Nabi Muhammad adalah seorang Rosul, utusan Alloh dan dijamin mendapatkan tiket syurga, akan tetapi penghambaannya pada Alloh SWT tidak pernah luntur. Nabi Muhammad menjadi hamba yang dicintai Alloh, pemimpin yang baik dalam keluarga dan masyarakat. Perhatian dan kasih sayangnya rata terbagi bagi setiap kalangan masyarakat, bahkan Nabi sangat dekat dengat orang-orang miskin terlebih anak-anak yatim.

Dalam QS. Al Ma’un surah ke 107 yang terdiri dari 7 ayat. Alloh berfirman, bahwa Orang-orang yang mendustakan agama adalah orang yang meghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin.

Diriwayatkan oleh Baihaqi melalui Umar RA. Nabi bersabda :

“Rumah kalian yang paling disukai Alloh adalah rumah yang didalamnya terdapat anak yatim yang dimuliakan.”

Sahabat…

Semoga kita dapat mentauladani indahnya akhlaq Rosululloh SAW.









1 komentar:

Tinggalkan komentar anda untuk sekedar saran, kritik dll.

Anda suka dengan artikel Lulu masukan Email anda untuk berlangganan (Gratis):

Delivered by FeedBurner


http://www.o-om.com Did You Know... »» (?)