Kamis, 18 September 2008

Memetik keindahan hikmah I’tikaf

Ibadah yang dipelihara, diutamakan dan sangat terpelihara oleh Rosululloh SAW adalah I’tikaf.
Kemudian bagaimana seharusnnya masjid menjadi marak dengan suasana penuh dengan ke-khusyuan I’tikaf?
Friend..
I’tikaf adalah berdiam atau tinggal di masjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu, dan diniatkan sebagai ibadah serta bentuk taqorrub kepada Alloh SWT. I’tikaf sebagai sarana perenungan yang efektif bagi kaum Muslim dalam memelihara dan meningkatkan kualitas hidup keislamannya. Amalan ini juga sebagi upaya untuk memakmurkan masjid.
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid adalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Alloh SWT; maka merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. At Taubah :18)
Friend..
Para ulama telah berijma bahwa I’tikaf merupakan iabadah yang disyariatkan dan disunahkan oleh Nabi Muhammad SAW .
Dari Abu Hurairah RA bahwa Rosululloh SAW senantiasa selama beri’tikaf pada setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari, dan ketika tahun kewafatannya beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhori).
Friend..
Sering kali orang awam mengira bahwa selama beri’tikaf ia tidak boleh melakukan ini dan itu, sehingga ini yang menjadi persepsi yang menakutkan dan memberatkan I’tikaf. Padahal semua itu tidaklah dilarang dan dan tidak pula membatalkan I’tikaf seseorang.
Friend..
Lantas apa saja hal-hal yang disunnahkan , diperbolehkan dan yang membatalkan selama I’tikaf ? Berikut penjelasannya :

Hal-hal yang disunnahkan selama I’tikaf
1. Memperbanyak melakukan ibadah-ibadah sunnah seperti sholat, membaca Al Quran, bertasbih, berzikir dan istighfar.
2. Mengakaji ilmu-ilmu agama. Mentelaah tafsir, hadits, biografi para orang sholeh, dan buku islami lainnya.
3. Tidak menyibukan diri dengan amalan dan ucapan yang tidak bermanfaat.
4. Hendaknya seorang yang I’tikaf tidak diam saja lantaran mengira bahwa itu adalah bentuk taqorrub (mendekatkan diri) kepada Alloh SWT, karena diam bukanlah suatu ibadah. Akan tetapi pembicaraan yang baik lebih utama daripada diam.

Hal-hal yang dibolehkan selama I’tikaf
1. Keluar dari tempat I’tikaf untuk mengantar keluarganya. Karena Rosululloh pun ketika sedang beri’tikaf keluar dari masjid untuk mengantar Shafiyah yang menjenguknya.
2. Menyisir rambut, mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan badan dan memakai minyak wangi.
3. Keluar dari masjid untuk keperluan manusiawi, seperti buang hajat, mandi, menjenguk orang sakit dan mengantar jenazah.
4. Boleh makan dan minum selama ia menjaga kebersihan masjid.

Hal-hal yang membatalkan selama I’tikaf
1. Keluar dari masjid tanpa ada keperluan meskipun hanya sebentar. Sehingga dalam I’tikaf sunnah cukup baginya memperbaharui kembali niatnnya untuk ber’itikaf ketika hendak masuk lagi ke dalam masjid. Sedangkan dalam I’tikaf yang wajib; seperti nazar I’tikaf selama sehari lalu ia keluar dari masjid tanpa sebab di tengah hari, maka I’tikafnya telah batal dan ia harus mengulang lagi dari awal.
2. Murtad dari agama Islam.
3. Haidh dan nifas.
4. Hilangnya akal karena gila atau mabuk-mabukan.
5. Berjimak dengan istri. (QS. Al Baqoroh : 187)
6. Pergi sholat jum’at (bagi yang membolehkan I’tikaf di Mushola yang tidak dipakai sholat jum’at).

Friend..
Itu tadi penjelasan singkat tentang hal-hal yang disunnahkah, diperbolehkan dan yang membatalkan I’tikaf seseorang. Kemudian apa saja hikmah yang bisa kita petik selama melaksanakan ibadah I’tikaf sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan :

1. Mengejar ketinggan dalam beribadah
Friend..
Sering kali kita belum bisa memaksimalkan waktu dengan baik di bulan Ramadhan. Ketika berada di sepuluh hari pertama dan kedua di bulan Ramadhan, diri kita lalai dan sibuk dengan kegiatan pribadi kita sehingga kurangnnya waktu untuk taqorrub pada Alloh SWT. I’tikaf merupakan ibadah yang dilakukan sepuluh hari akhir di bulan Ramadhan sekaligus mengejar ketinggalan kita dalam beribadah. Sebagai sarana yang tepat untuk menyempurnakan ibadah-ibadah kita.

2. Tolak ukur keberhasilan
Friend..
Kalau kita bisa memaksimalkan ibadah pada awal dn pertengahan bulan Ramadhan, maka disepuluh akhir Ramadhan ibadah kita harus lebih maksimal lagi, lebih semangat meraih berkah dan pahala yang berlipat ganda. Ibnu Qoyyib berkata : “Seorang pekerja yang cerdik akan mengakhirinya dengan yang terbaik.” Dan I’tikaf memberikan peluang kepada kita untuk mewujudkan hikmah ini.

3. Menuju taqwa
Dalam QS. Al Baqoroh : 183 menjelakan bahwa tujuan orang Mu’min berpuasa adalah menjadi Muttaqin (orang yang bertaqwa). Proses penempaan diri selama di bulan Ramadhan akan menghasilkan insan yang bertaqwa paska Ramadhan. Sehingga ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan dengan giat dan penuh semangat akan dilakukan juga setelah Ramadhan. I’tikaf selama sepuluh hari di bulan Ramadhan merupakan peluang yang paling kondusif untuk mencapai pribadi yang bertaqwa.

4. Mengendalikan nafsu
Ramadhan merupakan bulan pengendalian diri kita, mengndalikan ambisi, keinginan dan syahwat yang selalu menuntut lebih, baik itu berupa makanan, minuman, atau keperluan hidup lainnya. Dan I’tikaf selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan menyadarkan bahwa ia masih sehat dengan makanan dan minuman yang sederhana dan asupan yang sedikit. Rutinitas selama I’tikaf akan memberikan pelajaran pembiasaan diri untuk mampu mengandalikan nafsu di luar Ramadhan.

5. Hati yang terpaut dengan masjid
“Ada tujuh golongan yang dinaungi oleh Alloh dengan naungan-Nya pada dimana tidak ada naungan apapun kecuali naungan dari-Nya ; pemimpin yang adil dan lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.” (HR. Bukhori)

6. Peluang mendapatkan Lailatul Qodar
Kemuliaan lailatul qodar dapat kita raih dengan ibadah yang maksimal. Para Ulama berpendapat bahwa pahala sholat, tilawah, zikir, dan amal kebaikan yang dilakukan pada malam lailatul qodar jauh lebih besar dari semua pahala kebaikan yang kita lakukan selama seribu bulan yang tidak terdapat didalamnya lailatul qodar. Rosululloh hanya mengatakan bahwa lailatul qodar itu jatuh pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, untuk mendapatkan malam lailatul qodar kita harus memaksimalkan ibadah selama I’tikaf pada sepuluh hari terakhir tanpa harus membedakan antara malam ganjil dan genap.

7. Mengevaluasi diri
Umar bin Khotob RA berkata : “Perhitungkanlah diri kamu sebelum kamu diperhitungkan.” Jadi kita harus selalu mengevaluasi diri kita selama kita hidup di di dunia, sebelum menghadapu perhitungan di akhirat. I’tikaf merupakan waktu yang kondusif untuk refleksi dan evaluasi diri, “Apakah kita sudah maksimal atau lalai dalam melaksanakan perintah Alloh SWT ?”.

8. Menjaga amanah Alloh SWT
Tujuan hidup kita di dunia ini adalah hanya untuk beribadah kepada Alloh dan mengharap Ridho-Nya. Abu Bakar RA berkata : “Sesungguhnya Alloh memiliki hak atas kamu di siang hari yang mana Ia akan menerimanya di malam hari yang mana ia akan menerimanya di siang hari.” dengan I’tikaf dapat menumbuhkan komitmen dalam diri kita untuk mengerjakan kewajiban pada waktu yang telah ditentukan serta menumbuhkan kesadaran agar senantiasa mengabdikan diri kepada Alloh SWT dengan bentuk-bentuk ibadah yang ditentukan Alloh SWT.

Friend..
Itulah tadi beberapa hikmah I’tikaf pada sepuluh haru terakhir di bulan Ramadhan. Semoga amal ibadah kita selama di bulan Ramadhan diterima oleh Alloh SWT dan mencapai tujuan mulia yakni derajat taqwa. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar anda untuk sekedar saran, kritik dll.

Anda suka dengan artikel Lulu masukan Email anda untuk berlangganan (Gratis):

Delivered by FeedBurner


http://www.o-om.com Did You Know... »» (?)